Cabri World – AS Tekan Perdamaian, penghentian segera bentrokan di perbatasan Thailand–Kamboja, setelah pertempuran terbaru menewaskan sedikitnya 10 orang. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyerukan kedua pihak melakukan deeskalasi dan melindungi warga sipil.
Rubio menyatakan, “Amerika Serikat prihatin dengan pertempuran dan korban jiwa yang terus berlanjut di sepanjang perbatasan Kamboja–Thailand.” Ia menegaskan pentingnya kembalinya kedua negara ke langkah-langkah deeskalasi yang tercantum dalam Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur.
Baca Juga: Trump Tetapkan Waktu Zelensky Tanggapi Rencana Damai AS
Bentrokan terbaru dimulai Senin (8/12/2025) pagi, dipicu serangan udara oleh jet F-16 Thailand. Bangkok menuduh Phnom Penh melakukan “serangan perbatasan” yang menewaskan satu tentara. Hingga saat ini, tujuh warga sipil Kamboja dan tiga tentara Thailand tewas, sementara 29 tentara Thailand dan 20 warga sipil Kamboja mengalami luka-luka. Ribuan warga mengungsi menyusul kekerasan tersebut.
Thailand dan Kamboja sebelumnya menandatangani perjanjian damai di Kuala Lumpur pada 26 Oktober 2025, setelah sengketa perbatasan yang berulang kali memicu bentrokan mematikan. Presiden AS Donald Trump menekankan perlunya kedua negara menghormati komitmen gencatan senjata, sedangkan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mendorong pengendalian diri dan diplomasi.
Para pengamat menilai bahwa meskipun gencatan senjata sudah disepakati, ketegangan tetap tinggi. Langkah diplomatik dan pengawasan internasional dianggap krusial untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan memastikan keselamatan warga sipil di zona perbatasan.
AS Tekan Perdamaian, Thailand dan Kamboja Segera Hentikan Bentrokan Perbatasan
Amerika Serikat menekankan perlunya Thailand dan Kamboja menghentikan bentrokan di perbatasan yang menewaskan sedikitnya 10 orang. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak kedua pihak segera melakukan deeskalasi dan melindungi warga sipil.
Rubio menyebut, “Kami prihatin dengan korban jiwa yang terus meningkat dan mendesak langkah cepat untuk menghentikan permusuhan.” Ia menekankan perlunya penerapan Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur.
Bentrokan terbaru dimulai Senin (8/12/2025) pagi, ketika jet F-16 Thailand menyerang wilayah yang disebutnya sebagai “serangan perbatasan” oleh Kamboja. Akibatnya, tujuh warga sipil Kamboja dan tiga tentara Thailand tewas, serta puluhan lainnya terluka. Ribuan warga terpaksa mengungsi.
Kedua negara menandatangani gencatan senjata pada 26 Oktober 2025, namun ketegangan tetap tinggi. Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menekankan pentingnya kepatuhan kedua negara untuk mencegah eskalasi.
Pengamat menilai keberhasilan gencatan senjata bergantung pada pengawasan internasional dan diplomasi aktif. Perlindungan warga sipil, pemantauan ketat, serta dialog berkelanjutan dianggap kunci menjaga perdamaian jangka panjang di perbatasan.




Leave a Reply