Bak Tsunami, Topan Ragasa Tewaskan 17 Orang di Taiwan

Bak Tsunami, Topan Ragasa Tewaskan 17 Orang di Taiwan

Cabri World – Bak Tsunami, Banjir bandang mematikan melanda kota Guangfu di Taiwan. Bencana ini terjadi setelah Topan Super Ragasa menerjang pada Selasa (23/9/2025). Sebanyak 17 orang tewas akibat peristiwa tersebut. Warga menganggap banjir dari luapan danau tersebut seperti tsunami.

Banjir terjadi karena sebuah danau yang terbentuk dari tanah longsor meluap. Hujan deras akibat topan memperburuk keadaan. Banjir tiba-tiba itu menghancurkan jembatan utama. Petugas pemadam kebakaran mengatakan semua korban berada di Guangfu. Petugas masih mencari orang hilang. Perdana Menteri Taiwan, Cho Jung-tai, menginstruksikan penyelidikan. Penyelidikan ini berfokus pada perintah evakuasi. Banyak warga merasa peringatan dini tidak memadai.

“Baca Juga: Prabowo Temui PM Kanada, Sampaikan Permintaan Maaf”

Cho Jung-tai menyampaikan, “Ini bukan tentang menyalahkan siapa pun. Ini tentang mengungkap kebenaran.” Ia juga menambahkan, “Kami harus menyelidiki. Kenapa perintah evakuasi tidak dilaksanakan?” Awalnya, ada 152 orang dilaporkan hilang. Namun, sebagian besar berhasil ditemukan selamat.

Jumlah korban tewas kemudian dikonfirmasi menjadi 17 orang. Hujan deras masih terus turun di Hualien. Sirene peringatan banjir baru berbunyi di Guangfu. Warga dan tim penyelamat berteriak, “Banjir datang, lari cepat.” Mereka bergegas ke area yang lebih aman. Peristiwa ini menunjukkan perlunya sistem peringatan yang lebih baik. Pihak berwenang perlu segera bertindak. Hal ini untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.

Bak Tsunami, Banjir Bandang di Guangfu Tewaskan 17 Orang Pasca-Topan Ragasa

Guangfu, Taiwan, diguncang banjir bandang mematikan pada Selasa, 23 September 2025. Bencana ini menewaskan 17 orang. Bencana ini terjadi setelah Topan Super Ragasa melanda wilayah tersebut. Banyak warga merasakan terjangan banjir luapan danau ini seperti tsunami.

Banjir dipicu oleh meluapnya danau penghalang yang terbentuk dari tanah longsor. Curah hujan ekstrem akibat topan memperparah situasi. Banjir ini merusak total jembatan utama yang menghubungkan jalan di seberang sungai. Petugas pemadam kebakaran memastikan semua korban meninggal dan hilang berasal dari Guangfu. Perdana Menteri Taiwan, Cho Jung-tai, meminta penyelidikan mendalam. Penyelidikan ini berfokus pada mengapa perintah evakuasi tidak terlaksana di area terdampak.

“Baca Juga: Eskalator & Teleprompter di PBB Mati Saat Trump Hadir”

“Ini bukan soal mencari siapa yang salah, tetapi mengungkap kebenaran,” kata Cho Jung-tai. Ia juga mempertanyakan, “Kami harus selidiki. Mengapa evakuasi tidak berjalan di wilayah yang ditetapkan?” Awalnya, 152 orang dilaporkan hilang, tetapi sebagian besar telah ditemukan selamat. Angka korban tewas kemudian direvisi menjadi 17 orang. Sementara hujan deras terus turun di Hualien, sirene peringatan banjir baru berbunyi. Di Guangfu, warga dan tim penyelamat panik. “Banjir datang, lari cepat!” teriak mereka saat bergegas ke tempat yang lebih aman. Peristiwa ini menunjukkan pentingnya sistem peringatan dini yang efektif. Pemerintah harus mengambil tindakan segera untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *