Cabri World – Menlu Pakistan Muhammad Ishaq Dar, menegaskan bahwa proposal perdamaian Gaza yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbeda dari usulan negara-negara Arab dan Islam. Ia menilai rencana yang dipublikasikan Trump tidak mewakili dokumen resmi yang telah disampaikan ke Washington.
Dar menjelaskan, Pakistan bersama tujuh negara lainnya sebelumnya menyusun proposal bersama untuk menghentikan konflik di Gaza. Menurutnya, inti dari proposal itu adalah menghentikan pertumpahan darah, memastikan bantuan kemanusiaan masuk, serta mencegah pengungsian paksa warga sipil. Namun, poin-poin kunci ini tidak tercermin dalam versi yang diumumkan oleh Trump.
“Apa yang diumumkan Trump bukanlah dokumen yang kami kirimkan. Ada beberapa elemen penting yang harus dicantumkan,” ujar Dar kepada wartawan pada Rabu (1/10/2025), seperti dikutip Middle East Monitor. Ia menegaskan Pakistan tetap berkomitmen pada versi yang disepakati bersama negara-negara Arab dan Islam.
“Baca Juga: Militer Israel Mencegat Armada Global Sumud, 450 Aktivis Ditahan”
Dar juga menekankan pentingnya langkah segera berupa gencatan senjata untuk membuka jalan bagi negosiasi lebih lanjut. Menurutnya, tanpa penghentian kekerasan, mustahil bagi komunitas internasional untuk mengatur bantuan kemanusiaan secara efektif.
Pernyataan Menlu Pakistan ini menyoroti perbedaan tajam antara pendekatan Washington dan usulan kolektif negara-negara mayoritas Muslim. Situasi tersebut berpotensi memperumit upaya diplomasi internasional untuk mengakhiri perang di Gaza.
Ke depan, Pakistan menegaskan akan melanjutkan koordinasi dengan mitra regional untuk mendorong proposal perdamaian yang dianggap adil. Pemerintah Islamabad menilai kerja sama dunia Islam penting untuk memastikan suara Palestina tetap menjadi pusat setiap kesepakatan damai.
Menlu Pakistan, Netanyahu Ubah Rencana Perdamaian Gaza Versi Trump
Sumber yang mengetahui inisiatif Amerika Serikat menyebut proposal perdamaian Gaza yang diumumkan Donald Trump berbeda jauh dari rancangan awal negara Arab dan Islam. Informasi ini dilaporkan Axios dan dikutip Kantor Berita Safa.
Menurut laporan tersebut, proposal Trump berisi 20 poin yang mengalami perubahan signifikan. Perubahan itu disebut terjadi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan pertemuan dengan utusan Gedung Putih Steve Witkoff, menantu Trump Jared Kushner, serta penasihat dekatnya Ron Dermer.
Pertemuan berlangsung pada Minggu (28/9/2025) selama enam jam. Dalam sesi itu, Netanyahu disebut mendorong revisi terhadap sejumlah ketentuan penting, termasuk jadwal penarikan pasukan Israel dari Gaza.
“Baca Juga: Kerusuhan Protes Gen Z 212 Maroko, 2 Orang Meninggal”
Sumber-sumber yang terlibat mengatakan perubahan tersebut menjadikan proposal Trump semakin menjauh dari usulan kolektif negara Arab dan Islam. Versi awal usulan menekankan penghentian agresi militer, pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, dan penghentian pengungsian paksa warga Palestina.
Namun, rancangan akhir yang diumumkan Trump dinilai lebih mengakomodasi kepentingan Israel. Hal ini menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan negara-negara Muslim yang sebelumnya telah menyepakati dokumen bersama.
Situasi ini berpotensi menambah ketegangan diplomatik dan menghambat peluang tercapainya konsensus internasional. Perbedaan mencolok antara usulan negara-negara Islam dan versi Washington-Israel dapat memperumit upaya mengakhiri konflik Gaza secara adil.
Ke depan, sorotan akan tertuju pada apakah komunitas internasional mampu menekan semua pihak untuk kembali ke meja perundingan. Dukungan kolektif dunia Arab dan Islam dipandang penting agar rencana perdamaian tidak kehilangan legitimasi.




Leave a Reply