cabriworld.http://cabriworld.netnet– Psikolog klinis Phoebe Ramadina M.Psi, Psikolog dari Universitas Indonesia menekankan pentingnya menjaga respon sehat saat menghadapi anggota keluarga yang suka pamer atau “flexing”. Ia menjelaskan, perilaku ini sering muncul saat Lebaran, ketika keluarga besar berkumpul dan terjadi dinamika membandingkan pencapaian atau materi.
Karakteristik dan Penyebab Perilaku Flexing
Phoebe menyebut, orang yang flexing biasanya mencari validasi dan pengakuan dari lingkungan. Tujuannya agar terlihat berhasil atau setidaknya tidak tertinggal dibanding anggota keluarga lain. “Respon yang netral dan tidak memperpanjang diskusi ke arah kompetisi sudah cukup, sambil tetap menjaga kesadaran bahwa apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya,” kata Phoebe kepada ANTARA, Selasa.
Ia menambahkan, perilaku ini kerap terkait budaya yang menilai kesuksesan melalui pencapaian materi atau status sosial. Selain itu, flexing juga bisa menjadi bentuk kompensasi dari rasa tidak aman atau ketakutan dianggap gagal. Phoebe menjelaskan bahwa beberapa individu bahkan menyewa barang mewah agar terlihat sukses meski sebenarnya tidak sesuai kondisi nyata.
Faktor lain yang memicu flexing termasuk tekanan sosial keluarga, rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO), serta harga diri yang belum stabil. “Di era yang sangat menekankan pencitraan, penampilan eksternal sering kali dianggap lebih penting daripada keaslian,” ujarnya. Fenomena ini membuat individu terkadang melakukan berbagai cara untuk memenuhi ekspektasi sosial.
Baca juga: “Strategi Lindungi Massa Otot Usia 30 Tahun”
Strategi Menjaga Kesehatan Psikologis Saat Menghadapi Flexing
Phoebe menekankan pentingnya tetap berakar pada nilai dan standar diri sendiri. Jika interaksi mulai melelahkan secara emosional, menjaga jarak secara sehat bisa membantu. Selain itu, empati perlu dikembangkan karena perilaku flexing sering kali merupakan cara individu mencari pengakuan atau rasa dihargai.
Menurut Phoebe, membalas dengan pamer atau bersaing hanya akan memperpanjang ketegangan. Respon netral, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menjaga kesadaran bahwa apa yang ditampilkan belum tentu benar, menjadi langkah efektif untuk mengelola stres psikologis.
Menciptakan Percakapan Keluarga yang Lebih Bermakna
Untuk membuat momen Lebaran lebih bermakna, Phoebe menyarankan fokus pada percakapan yang memperkuat koneksi emosional. Contohnya, berbagi pengalaman hidup, tantangan yang dihadapi, pelajaran yang dipetik, atau kenangan keluarga. Memberikan apresiasi tulus juga meningkatkan rasa kebersamaan.
Selain itu, menanyakan kondisi emosional masing-masing anggota dan membicarakan harapan ke depan membuka ruang percakapan yang lebih dalam. Strategi ini membuat interaksi tidak sekadar formal, tetapi juga membangun hubungan kekeluargaan yang suportif dan hangat.
Konteks Psikologis dan Sosial Flexing
Fenomena flexing tidak hanya terjadi di keluarga, tetapi juga di media sosial, di mana pencitraan dan ekspektasi sosial meningkat. Data riset psikologi sosial menunjukkan bahwa individu cenderung membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai kesuksesan diri sendiri. Tekanan sosial semacam ini dapat meningkatkan stres, kecemasan, dan perasaan rendah diri jika tidak dikelola dengan bijak.
Dengan memahami motivasi di balik flexing, seperti mencari validasi atau menutupi rasa tidak aman, individu dapat merespons dengan lebih tenang. Fokus pada nilai diri sendiri, empati, dan komunikasi terbuka membantu menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat relasi keluarga.
Perilaku flexing saat Lebaran sering muncul akibat tekanan sosial, budaya materi, dan rasa ingin divalidasi. Psikolog Phoebe Ramadina menekankan respon netral, menjaga jarak emosional, dan mengembangkan empati sebagai strategi utama menghadapi fenomena ini.
Lebih jauh, membangun percakapan keluarga yang bermakna—seperti berbagi pengalaman, apresiasi tulus, dan membicarakan kondisi emosional—dapat memperkuat hubungan kekeluargaan. Dengan cara ini, momen Lebaran menjadi tidak hanya tentang pencapaian materi, tetapi juga mempererat ikatan emosional yang sehat dan suportif.
Baca juga: “Cara Menyikapi ‘Flexing’ saat Lebaran, agar Mental Tetap Sehat”




Leave a Reply